Review Jurnal: Tantangan Binadamai: Kegagalan Demokratisasi Pasca Konflik Sipil di Afghanistan
|
Judul
|
Tantangan Binadamai: Kegagalan
Demokratisasi Pasca Konflik
Sipil di Afghanistan
|
|
Jurnal
|
Jurnal Transformasi Global
|
|
Volume, nomor, dan halaman
|
Vol 3, No. 1, Hlm 95-114
|
|
Tahun
|
2015
|
|
Penulis
|
Irza Khurun’in
|
|
Asal Institusi Penulis
|
FISIP Universitas Brawijaya
|
|
Sumber Jurnal
|
|
|
Reviewer
|
Bonifacio Rui
|
|
NIM
|
180110301075
|
|
Asal Institusi Reviewer
|
Universitas Jember
|
|
Tanggal Review
|
16 Oktober 2019
|
|
|
|
|
Ringkasan Abstrak
|
Tulisan ini mengambil tema mengenai tantangan yang
sering dihadapi
pada proses binadamai pasca konfik. Penulis fokus
pada binadamai di
Afghanistan pasca 2001. Konflik di Afghanistan merupakan
konflik yang rumit
dan berkepanjangan. Pihak internasional pun
mengambil peran untuk penciptaan
perdamaian yang berkelanjutan. Namun, binadamai yang
dilakukan di
Afghanistan terhitung sejak tahun 2002 hingga 2006
tidak berbuah demokrasi.
Binadamai dan demokrasi merupakan dua hal yang
konstitutif. Demokrasi
menjadi tujuan utama dalam transisi politik suatu
negara pasca konflik,
khususnya negara yang sebelumnya menganut rezim
otoriter, demokrasi
dianggap sebagai obat bagi penyelesaian konflik dan
penciptaan perdamaian
berkelanjutan. Selanjutnya, penulis menggunakan
pendekatan postwar
democratic transition untuk menganalisis kegagalan
binadamai di Afghanistan.
|
|
Ringkasan Pendahuluan
|
Binadamai
adalah aspek penting dalam sebuah kondisi pasca konflik. Binadamai bertujuan
untuk menciptakan perdamaian positif (Positive peace) dan perdamaian
berkelanjutan (sustainable peace). Namun, seringkali binadamai dijadikan
sebagai pintu masuk ide-ide demokrasi melalui pendekatan ‘Liberal Democratic
Peace Theory’. Gagasan Liberal Democratic Peace Theory adalah meyakini bahwa
demokrasi liberal sebagai jalan untuk menciptakan perdamaian yang
berkelanjutan. Sayangnya, kondisi konflik di tiap-tiap negara memiiki
karakteristik yang berbeda-beda yang tidak bisa hanya menggunakan satu
kacamata pendekatan saja. Oleh karenanya, pendekatan yang banyak digunakan
dalam proses peacekeeping maupun peacebuilding justru jarang berbuah
demokrasi dan rentan menimbulkan konflik jenis baru. Sekalipun tidak menutup
kemungkinan pendekatan liberal democratic peace theory juga berhasil di
beberapa tempat, seperti Timor Leste, Namibia, Macedonia, Mozambik.
Sedangkan, kegagalan binadamai dapat dilihat di Aghanistan, Irak, Rwanda, dan
Kosovo.
|
|
Ringkasan Pembahasan
|
Post-war
Democratic Transition, sebuah pendekatan konseptual
Binadamai adalah aktivitas yang dilakukan untuk
memulihkan kondisi
sebuah negara pasca perang. Tujuannya adalah untuk
menciptakan stabilitas
keamanan dan perdamaian yang berkelanjutan. School
of Conflict Analysis and
Resolution mendefinisikan binadamai sebagai proses
dan aktivitas yang berkiatan
dengan penyelesaian konflik dan penciptaan
perdamaian berkelanjutan.
Binadamai hampir sama dengan resolusi konflik, namun
menitikberatkan pada
pembangunan sosial dan ekonomi yang stabil karena
merujuk pada kenyataan
bahwa tidak serta merta ketika konflik berakhir
dapat secara otomatis
menciptakan stabilitas yang berkelanjutan. Sedangkan
John Paul Lederach
mendefinisikan binadamai sebagai konsep yang
komprehensif, memuat proses
pendekatan, dan tahapan yang diperlukan untuk
mentransformasikan konflik
menuju kondisi damai yang berkelanjutan. Intinya,
binadamai adalah proses
rekonstruksi dan transformasi negara dari kondisi
konflik menuju kondisi damai
dan berkelanjutan.
Sejarah singkat Konflik Sipil di
Afghanistan
Perang
sipil di Afganistan terjadi sejak 1978, yang melibatkan kehadiran
militer
berkepanjangan dari Amerika Serikat, Uni Soviet, dan sejumlah negaranegara
Barat. Sebelumnya, di tahun 1970-an terjadi perubahan kekuasaan di kubu
pemerintahan Afghanistan. King Zahir Shah yang telah memimpin selama kurang
lebih 40 tahun, digulingkan di tahun 1973. Terjadi pendudukan Uni Soviet atas
Afghanistan di tahun 1979 hingga 1989. Maka muncul pertarungan ideologi yang
pro dan anti komunis yang selanjutnya secara terbuka terjadi konflik sipil di
tahun 1978 dan perang saidara di antara berbagai kelompok suku Afghanistan.
Lebih dari 1 juta warga Afghanistan meninggal dunia akibat konflik ini, namun
Uni Soviet berhasil di pukul mundur tahun 1992.
Analisis Kegagalan Binadamai di
Afghanistan
Kegagalan
binadamai di Afghanistan dapat dilihat melalui indikator-indikator berikut
ini. Pertama tingkat GDP Afghanistan yang rendah, yakni
peringkat
13 terbawah. GDP per kapita Afghanistan tahun 2013 adalah sebesar US$ 660,
US$ 654 di tahun 2014, dan US$ 615 di tahun 2015.16 Padahal, di posisi teratas
ditempati oleh Luxemburg dengan GDP perkapita sebesar US$ 103,187 di tahun
2015.17 Beirkut ini adalah data dari World Bank terkait dengan tingkat GDP
di Afghanistan.
|
|
Kelebihan
|
Menganalisa dengan cukup baik sejak
perang dingin yang telah mereda di Afghanistan
|
|
Kekurangan
|
Masih
ada beberapa keterkaitan penting antara perang sipil dan perang dingin secara
global yang belum tersentuh pembahasan.
|
Apa yang menjadi faktor pendukung yang membuktikan bahwasannya Afghanistan menjadi negara kedua yang paling rentan terjadi konflik?
ReplyDeleteDalam kasus Afghanistan, binadamai tidak dapat tercapai karena , tidak banyaknya pihak yang
Deleteterlibat untuk mencapai kesuksesan. Tidak tercapainya proses interaktif,
Afghanistan dalam upaya mencapai binadamai, ia tidak mencapai kesepakatan dari pihak yang berkonflik dan kurangnya informasi bagi dunia luar. Juga antara
aktivis perdamaian dan elit politik yang memenangkan kursi pemerintahan, memiliki keinginan sendiri sehingga tidak terjadinya pembangunan perdamaian dan menjadikan Afghanistan rentan terhadap konflik dari dalam maupun luar.
Apakah terdapat faktor lain yang menjadi kegagalan binadamai selain dilihat dari GDP-nya?
ReplyDeleteYang menjadikan binadamai di Afghanistan tidak terlaksana dan selain di lihat dari pendapatan yang begitu kecil berikut, faktor-faktor yang mempengaruhi tidak tercapainya binadamai di Afghanistan, pertama adalah kurangnya
Deletekapasitas administrasi; kedua karena kegagalan pendekatan analisis konflik dan ketiga karena geopolitik di Afghanistan; keempat karena minimnya
sumberdaya dalam pelaksanaan mandat membangun perdamaian
Sebenarnya kenapa peace democracy liberal theory ini tidak bisa diterapkan di afganistan sedangkan di negara lain seperti timor leste hal ini berjalan dengan lancar sebagi suatu alat untuk negara yg sedang berkonflik untuk mrlakukan peacebulding? Dan menurut anda apakag ada teori perdamaian lain yang cocok untuk di terapkan di afganistan?
ReplyDeleteSeberapa penting tingkat pendapatan gdp sehingga dapat menggagalkan binadamai di afghanistan, dan mengapa gdp dijadikan sebagai indikator kegagalan tersebut?
ReplyDeleteApakah ada cara lain untuk memulihkan negara pasca perang selain Binadamai ? Jelaskan !
ReplyDeletePerang sipil yang terjadi di Afganistan berlangsung berapa lama ? Apakah masih berlangsung hingga saat ini ?
ReplyDeletePerang sipil di Afganistan terjadi sejak 1978, yang melibatkan kehadiran
ReplyDeletemiliter berkepanjangan dari Amerika Serikat, Uni Soviet, dan sejumlah negaranegara Barat.
Mungkin bisa dijelaskan mengapa konflik tersebut melibatkan kehadiran dari negara-negara barat
Cara apa yang digunakan Afghanistan hingga berhasil memukul mundur Uni Soviet?
ReplyDeleteMengapa King Zahir Shah yang telah memimpin selama kurang lebih 40 tahun, digulingkan di tahun 1973?
ReplyDeletekonflik sipil terjadi pada 1978 hingga sekarang itu artinya negara tersebut rentan terhadap konflik. kegagalan binadamai di afganistan dan tidak membuahkan demokrasi karena faktor faktor yaitu karena kegagalan pendekatan politik, minimnya sumberdaya dalam melaksanakan peacebuilding, karena geopolitik di afganistan... sedikit pencerahan sekian terima kasih..
ReplyDelete